Image description
Image captions

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Yudo Margono memberi batas waktu 1 bulan kepada Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Kapushidrosal), Laksda Agung Prasetiawan untuk membongkar seaglider yang ditemukan di Laut Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurut Yudo, seaglider tersebut harus bisa dibongkar secepat mungkin supaya TNI AL bisa mendapat kepastian.

"Saya beri waktu satu bulan pak Kapushidros untuk bisa menentukan atau membuka hasilnya ini. Biar ada kepastian. Saya tentukan saja Pak Kapushidros saya beri tugas sebulan untuk mengungkap ini bersama-sama dengan kementerian atau lembaga terkait," ucap Yudo kepada Agung dalam jumpa pers di Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal), Senin (4/1/2021).

Yudo mengungkapkan bahwa Pushidrosal adalah lembaga yang berkompeten dalam meneliti temuan benda seperti seaglider. "Dari temuan tersebut, saya bawa ke Hidrosal karena di sini adalah lembaga yang berkompeten untuk meneliti adanya peralatan tersebut," imbuh Yudo.

 

Yudo mengaku enggan berkomentar lebih jauh soal penemuan seagliderini, sebelum ada hasil yang pasti dari Pushidrosal. Dia ingin publik juga mengetahui seputar seaglider yang terbang di Selayar itu.

"Jadi supaya lebih riil adanya sehingga alat tersebut kita bawa ke sini. Jadi saya tidak mau berandai-andai, supaya rekan semua jelas tentang penggunaan maupun apa namanya fungsi dari alat yang ditemukan kemarin di Desa Majapahit, Kabupaten Selayar," ucap dia.

Seperti diketahui, pemilik seaglider yang ditemukan nelayan di laut Selayar, Sulawesi Selatan, masih misterius. TNI AL menyatakan tak ada keterangan di badan 'drone laut' ini sejak pertama kali ditemukan.

"Tidak ditemukan ciri-ciri perusahaan negara pembuat. Ini dia, tidak ada tulisan apapun di sini. Jadi awalnya juga demikian. Kita tidak merekayasa, masih persis seperti yang ditemukan nelayan," kata Yudo, dalam konferensi pers hari ini.

Seaglider ini ditemukan oleh nelayan bernama Saeruddin (60) pada 26 Desember 2020 pagi hari. Seaglider itu punya dua sayap 50 cm, panjang bodi 225 cm, baling-baling (propeller) 18 cm di bawah, panjang antena 93 cm. Ada pula instrumen mirip kamera di bodi.

Seaglider ini dioperasikan untuk menghimpun data oseanografi, bisa digunakan untuk keperluan industri pengeboran, industri perikanan, maupun kepentingan militer dan pertahanan. Yudo menyebut Indonesia tidak punya alat ini.

"Kalau kita tidak punya. Kemungkinan bukan Indonesia," sebut Yudo.