Kejatuhan Venezuela ke tangan operasi militer Amerika Serikat (AS) bukan sekadar drama politik di Amerika Latin. Ini adalah alarm keras bagi negara-negara pemilik sumber daya alam strategis, termasuk Indonesia. Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, mengingatkan Jakarta agar segera memperkuat 'kewaspadaan strategis'.
Menurut Umam, penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh pasukan AS pada awal Januari 2026 merupakan babak baru dari demonstrasi kekuatan koersif Washington. Indonesia, kata dia, tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pergeseran tatanan global yang semakin agresif ini.
Efek Gentar dan Perburuan Sumber Daya
Umam menilai Venezuela hanyalah pintu masuk. Target berikutnya adalah negara-negara Global South (Selatan Global) yang kaya energi namun memiliki garis politik yang tidak sejalan dengan kemauan Gedung Putih.
"Venezuela bukan target terakhir. Operasi serupa sangat mungkin diarahkan ke wilayah lain yang memiliki nilai strategis energi dan posisi tawar ekonomi-politik yang tinggi," ujar Umam dalam keterangannya, Senin (12/1/2026).
Ia mengidentifikasi sejumlah wilayah yang kini masuk dalam zona kerentanan, mulai dari Greenland, Iran, Kolombia, Chili, hingga negara-negara lain yang memegang kunci energi jangka panjang bagi kepentingan AS. Langkah Washington ini dianggap sebagai upaya mengirim 'sinyal ketakutan' agar dunia tetap bergerak sesuai keinginan mereka.
Dalih Narkoterorisme dan Penguasaan Minyak
Di sisi lain, Washington tidak menutupi ambisinya. Wakil Presiden AS, JD Vance, secara terang-terangan menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan memberikan kendali lebih besar bagi AS atas sumber daya energi global. Dalih yang dipakai adalah memutus pendanaan 'narkoterorisme'.
Senada dengan itu, Presiden Donald Trump bahkan sudah mengumumkan bahwa otoritas sementara di Venezuela telah 'sepakat' untuk menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat (AS). Sebuah langkah yang kental dengan aroma hegemoni energi.
Strategi Indonesia: Luar Negeri Bebas Aktif Harus 'Bergigi'
Menghadapi instabilitas ini, Umam menekankan tiga poin krusial yang harus dilakukan Indonesia agar tidak terjebak dalam pusaran konflik kekuatan besar:
- Penguatan Kedaulatan Energi: Memastikan sumber daya nasional tidak mudah didikte kepentingan asing.
- Ketahanan Ekonomi: Membangun fondasi domestik yang kuat agar tahan terhadap sanksi atau tekanan geopolitik.
- Konsistensi Politik Luar Negeri Bebas Aktif: Menjaga jarak yang jernih namun tetap berperan dalam diplomasi perdamaian tanpa harus terseret dalam blok koersif.
"Indonesia harus membaca perkembangan ini dengan jernih. Konsistensi politik luar negeri kita menjadi kunci agar kita tidak ikut terbawa arus dalam manuver kekuatan global yang kian berbahaya," pungkas Umam.